Article
Diversifikasi Yang Lebih Luas dengan Reksa Dana US$
14 Dec 2020

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih meneruskan kenaikan hingga mencapai 5,938.33 per tanggal 11 Desember 2020, naik 2.4720% WoW (Week on Week) dan 7.78% MoM (Month on Month) namun masih -3.91% YoY (Year on Year). Adapun Indeks LQ45 bertengger di 929.94 menanjak 1.49% WoW dan 5.67% MoM tetapi masih -6.08% YoY.


Kenaikan IHSG terjadi ditengah penjualan investor asing sepanjang minggu lalu yang mencapai 720.85 miliar di pasar regular yang disebabkan beberapa faktor seperti profit taking, kenaikan cukai rokok yang lebih tinggi dari perkiraan analis menyebabkan kejatuhan saham rokok dan menariknya investasi obligasi dan saham di Tiongkok seiring melesatnya recovery ekonomi tahun depan.


Seiring optimisme perbaikan ekonomi tahun depan , bursa saham diperkirakan membaik tidak hanya di Indonesia tapi juga regional. Bagi investor yang ingin memanfaatkan momentum kenaikan ekonomi regional yang beberapa negara diprediksi bahkan lebih tinggi dari Indonesia, bisa memanfaatkan reksa dana berbasis US$ khususnya yang investasi di saham.


Saat ini Otoritas Jasa Keuangan sudah memperbolehkan reksa dana Shariah berinvestasi di Efek saham terbitan bursa luar negeri hingga 100?ri dana kelolaan. Namun minimal investasi awal nya relative besar yaitu US$ 10,000 dan investasi berikutnya minimal US$100 disamping itu perlu diperhatikan biaya transfer US$ relative mahal bila dari bank yang berlainan dengan bank dimana reksa dana tersebut menampung dana. Mungkin kedua faktor ini yang cukup menghambat laju kenaikan dana kelolaan reksa dana US$.


Selain sisi kekurangan reksa dana denominasi US$, sebetulnya investor diuntungkan dengan kemudahan berinvestasi melalui manajer investasi yang sudah mempunyai jaringan internasional dan keahlian investasi di bursa luar negeri. Dengan demikian investasi di US$ tidak hanya mengharapkan suku bunga yang nyaris nol tapi bisa lebih optimal bahkan tidak kalah dengan investasi di bursa Indonesia sembari menikmati kenaikan kurs US$ dalam jangka panjang.


Investamart menjual 2 produk reksa dana saham Sharia berdenominasi US$ yang kinerjanya cukup baik seperti terlihat di grafik berikut untuk periode 1 bulan terakhir.




Terlihat dari grafik dan tabel Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS jauh mengungguli Bahana USD Global Sharia Equities dan Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) dari sisi kinerja return sebulan terakhir maupun dari dana kelolaannya.


Bagaimana dengan kinerja reksa dana jenis ini sepanjang tahun ini mengingat pandemic yang masih membuat bursa Indonesia merah ? Ternyata hasilnya diluar dugaan, Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS memberikan imbal hasil 10.91% YTD atau dua kali lipat return DJIA sedangkan Bahana USD Global Sharia Equities malah masih merah -0.32% YTD. Jangan lupa masih ada potensi return dari kenaikan US$ terhadap IDR yang bila dihitung berdasar kurs tengah Bank Indonesia sebesar 1.45% YTD.




 

Back