Article
Mengantisipasi January Effect
21 Dec 2020


Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus ngebut meninggalkan angka keramat 6,000 hingga mencapai 6,104.32 per tanggal 18 Desember 2020, naik 2.80% WoW (Week on Week) dan 9.84% MoM (Month on Month) namun masih -2.91% YoY (Year on Year). Adapun Indeks LQ45 berlabuh di 962.36 menanjak 3.49% WoW dan 8.66% MoM namun secara tahunan masih -5.57% YoY. Adapun Infovesta Equity Fund Index yang merepresentasikan kinerja reksa dana saham secara keseluruhan seminggu terakhir naik lebih tinggi disbanding benchmark yaitu sebesar 3.59% WoW dan 11.25% MoM suatu kejadian yang agak jarang terjadi. Namun kinerja tahunannya masih paling bontot yaitu -9.01% YoY. Kenaikan IHSG didukung investor ritel karena ternyata investor asing melakukan penjualan bersih Rp. 1.47 Triliun di pasar regular dan negosiasi. Kemungkinan aksi jual investor asing dipicu selain profit taking adalah menanjaknya pasien Covid-19 dan berita tentang akan diperketatnya lagi PSBB.


Dengan return bulan Desember yang masih tinggi serta jumlah hari perdagangan tersisa di akhir tahun hanya beberapa hari Bursa maka bisa dikatakan kemungkinan besar return saham di bulan Desember masih melanjutkan tradisi berakhir positif. Khusus tahun ini tidak mengagetkan bila return tersebut jauh di atas rata-rata return bulanan Desember periode 10 tahun terakhir yang tercatat sebesar 3.45%.


Dengan sudah membaiknya IHSG secara siginifikan sejak Oktober tahun ini, apakah masih menyisakan kemungkinan return jangka pendek di bulan January yang terkenal dengan istilah January Effect bakal terjadi ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita kritisi data historis yang kadang bersifat siklikal. Dari data di www.infovesta.com yang kami himpun, ternyata kinerja IHSG periode 10 tahun terakhir khusus di bulan January menorehkan rata-rata return 0.71% MoM dengan return maksimum 5.46% di tahun 2019 dan return minimum -7.95% terjadi tahun 2011. Adapun selama 10 tahun terakhir ada probabilitas 70% pasar memberikan return positif artinya 10 tahun terakhir di setiap bulan Januari ada 7 kali yang naik dan 3 kali yang turun.


Bagaimana dengan kinerja saham-saham blue-chips yang notabene umum menghuni portfolio reksa dana ? Untuk itu kita gunakan Indeks LQ45 yang ternyata data yang dihasilkan tidak terlalu berbeda dengan IHSG. Rata-rata return bulan January periode yang sama sebesar 0.57% MoM dengan return maksimal 5.72% MoM tahun 2019 sedangkan return minimum -9.60% MoM dialami tahun 2011 juga. Adapun probabilitas return naiknya adalah 70% sama seperti IHSG.


Sebagai tambahan informasi, infovesta juga memiliki data return bulanan dari Infovesta Equity Fund Index yang hasilnya agak berbeda dengan benchmarknya. Kinerja January Effect untuk indeks ini rata-ratanya hanya 0.17% MoM dengan return maksimum 4.71% pada tahun 2018 sedangkan return minimum tercatat -9.33% MoM tahun 2011. Probabilitas return positif nya sama dengan benchmark yaitu 70%.


Menilik angka-angka di atas terutama data tahun 2011 yang agak outliers atau diluar kebiasaan, bisa dikatakan sebenarnya data agak terseret ke bawah. Namun dengan angka yang jelek di tahun 2011 pun masih bisa menghasilkan return rata-rata yang positif dan agak mirip return reksa dana obligasi yang kinerjanya ciamik . Beruntungnya angka probabilitas return positif cukup meyakinkan di 70% sehingga memperkecil potensi rugi investor.


Untuk meningkatkan return bulanan di January maka investor perlu memilih reksa dana saham yang menghasilkan alpha positif atau selisih dengah benchmark yang positif. Investamart menyediakan beberapa reksa dana saham yang berkinerja baik antara lain : Sucorinvest Equity Fund dengan scoring Bintang 5 untuk periode pengamatan 6 bulan, 1 tahun, 3 tahun dan 5 tahun terakhir. Return 1 bulan terakhir 14.30% jauh mengungguli IHSG. Selain itu ada Sucorinvest Sharia Equity Fund dengan scoring sama seperti Sucorinvest Equity Fund dan return sebulan terakhir 26.83% MoM.


Alternatif lain adalah Manulife Saham Andalan dengan return sebulan terakhir 20.10% MoM dan scoring Bintang 5 untuk pengamatan 6 bulan terakhir dan Bintang 3+ bila dihitung kinerja 5 tahun terakhirnya.

Back