Article
Euforia Saham, Sampai Kapan?
11 Jan 2021

Melanjutkan trend kenaikan sejak awal Oktober 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menanjak hingga menembus angka bulat di 6,000 dan bertengger di 6,257.84 per tanggal 8 Jan 2020. Baru 5 hari perdagangan bursa, IHSG sudah menorehkan 4.66% YTD. Sejak pengumuman kasus Covid diumumkan Presiden Joko Widodo tanggal 2 Maret 2020. IHSG sudah naik 16.72%, padahal seperti kita tahu sector riil masih jeblok dan hingga saat ini status ekonomi masih resesi.


Kinerja Indeks LQ45 juga sebelas-duabelas dengan IHSG, ditutup di 979.31 alias naik 4.75% YTD. Return ini jauh mengungguli rata-rata return January selama 10 tahun terakhir yang hanya 0.71% MoM. Adapun return historis maksimum di bulan January tercatat 5.46% yang terjadi tahun 2019 sudah semakin didekati karena baru seminggu ini saja sudah 4.66?n ada kemungkinan rekor baru terpecahkan. Namun pertanyaannya adalah apakah akhir January return fantastis ini bisa dipertahankan ? Bagaimana sebaiknya strategi investor reksa dana saham ?


Jika dilihat dari data historis tampaknya kenaikan IHSG terlalu cepat dan masif. Penulis menduga fenomena ini akibat semakin banyaknya investor saham pemula dari kalangan milenial yang walaupun nominal investasinya relatif kecil namun jumlahnya sangat banyak mencapai 1.68 juta Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 53% sepanjang tahun 2020. Jumlah investor ini masih tetap tumbuh tinggi sejalan dengan semakin maraknya influencer saham via media sosial yang memamerkan profit dan rekomendasinya. Tahu sendiri bagaimana bila anak muda mendapatkan profit besar dalam waktu singkat ? Apakah ceritanya akan disimpan sendiri seperti kelakuan orang tuanya ? Walaupun ditutupi (yang saya rasa kemungkinannya kecil) tetap informasi dari selebritas saham bisa diakses dan menjadi viral. Tahun ini gelombang investor milenial menyerbu pasar saham masih cukup besar dan bisa jadi disusul oleh generasi diatas nya yang lebih mapan.


Dari sisi makro pun masih menunjang dengan rendahnya suku bunga untuk mendukung pemulihan perekonomian dan masih ada kemungkinan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 25 bps. Investor asing pun masih dalam tahap awal masuk kembali ke pasar saham dan obligasi karena prospek pertumbuhan PDB tahun ini diperkirakan oleh Bank Indonesia bisa mencapai 5.8%, bahkan proyeksi dari IMF lebih tinggi lagi yaitu 6.1%.


Walaupun prospek yang membaik seiring akan dimulainya vaksinasi, namun tetap saja kecepatan kenaikan IHSG sebenarnya diluar dugaan jauh melampaui fundamentalnya. Akan tetapi melihat pemain saham yang didominasi investor domestic yang tidak terlalu melihat aspek fundamental seperti investor asing maka kemungkinan besar pasar saham akan overshoot ke atas alias harganya berpotensi naik dan tidak melihat lagi faktor valuasi.


Atas premis di atas, maka prediksi IHSG bisa didekati dengan Technical Analysis yang memberikan gambaran kondisi psikologis investor. Menggunakan Fibbonaci Retracement, target IHSG dalam 1-2 bulan kedepan berpotensi menyentuh 6,636 yang merupakan level resistance IHSG seperti pernah terjadi pada tanggal 18 Apr 2019. Tentu saja dalam perjalanannya akan diwarnai koreksi terutama akibat penerapan pengetatan PSBB dan aksi profit taking.


Investor masih bisa masuk ke reksa dana saham paling tidak hingga awal bulan Mei ke Sucorinvest Equity Fund, Sucorinvest Maxi Fund dan  Manulife Saham Andalan atau ke reksa dana index seperti RHB Sri Kehati Fund atau BNI-AM Indeks IDX30.

Back